Jumat, 04 Juli 2014

Trip to Sangiran ^^


Pagi itu tanggal 8 Juni 2014, tepatnya pada pukul 10.00 WIB. Kami berangkat menuju Sangiran untuk melakukan Reportase Feature untuk tugas mata kuliah Teknik Komunikasi. Perjalanan ini telah kami rencanakan seminggu yang lalu. Kami berangkat menggunakan mobil Avanza yang kami sewa sebagai alat transportasi dengan sopir kakak tingkat angkatan 2010.

Sesampainya kami disana, di pintu masuk kami membeli tiket sebesar @Rp. 5000,- dan biaya parkir sebesar Rp. 5000,-. Setelah itu kami langsung disambut dengan patung manusia purba yag berdiri besar di bagian Timur halaman dan area parkir. Setelah mengisi buku tamu, kami berjalan masuk dan mendapati  Tebing tanah yang bertuliskan “Lahar Gunung Lawu Purba”. 

Figure 1 Lahar Gunung Lawu Purba Usia 1,8 Juta tahun

Kami sempat melakukan wawancara dengan salah satu satpam yang menjaga di pintu masuk. Namanya pak Tekno. Beliau menuturkan bahwa museum ini awal didirikan pada kurang lebih tahun 1974. Museum telah memiliki perlebaran ±56 km² dan saat ini luasnya ±59,21 km². Dana pembangunan renovasi museum saat ini berasal dari pemerintah, karena museum Sangiran telah terdaftar sebagai museum bersejarah di dunia dengan nomer urut pendaftaran ±500 di UNESCO. Pak tekno menuturkan karena banyak ditemukannya fosil-fosil di daerah Sangiran, maka dipilihlah Sangiran menjadi tempat untuk menempatkan serta merawat fosil-fosil tersebut.
Kemudian kami memasuki ruangan Display 1, “Museum Sangiran ini terbagi menjadi 3 display ruangan yang mempertunjukkan atau memperlihatkan keadaan jaman prasejarah”. Kata pak Tekno. 

                                      Figure 2 Penemuan terbaru 2014

Dapat dilihat pada ruangan display 1 disajikan temuan fosil-fosil terbaru. Pada penemuan tebaru ditemukan fosil hewan gajah yang berusia ± 200.000-700.000 tahun yang lalu yang ditemukan sekitar bulan Januari- April 2014 di Daerah Sambung Macan, Sragen, Jawa Tengah. Selain itu, juga terdapat miniatur manusia purba dan juga fosil-fosil badak, dinosaurus, buaya dan bagian-bagian tubuh dari gajah.

Menurut penuturan pak Tekno, saat ini arkeolog masih melakukan pencarian dan penggalian terhadap fosil-fosil, dibantu dengan masyarakat di sekitar dengan alasan mereka pemilik tanah yang di gali tersebut. Selain itu pemerintah memang menginginkan adanya keterlibatan dari masyarakat setempat agar nantinya dapat sama-sama untuk menjaga penemuan yang ditemukan secara bersama.
  
                              Figure 2 Contoh Fosil dan Manusia Purba
Kemudian setelah memasuki ruang display 2, kami disajikan dengan gambaran-gambaran kepulauan Indonesia. Dari awal mula terbentuknya alam semesta, yang dijuluki sebagai “The Ring of Fire”
 
Figure 4 The Ring of Fire
  
Kemudian di display ini juga menyajikan arkeolog pertama yang meneliti keberadaan zaman purba yaitu pada zaman Belanda dan juga menyajikan terbentuknya manusia sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Darwin.

Figure 5 Arkeolog masa itu

Figure 6 Teori Darwin

Figure 7 Cara Penemuan

Namun, yang menjadi pencetus pertama kali pendirian Situs Museum Sangiran ini ialah Pak Toto Marsono yang merupakan seorang arkeolog dari Indonesia. Alasan pembangunan museum ini, menurut penuturan Pak Tekno, agar masyarakat tidak lupa dengan adanya zaman purbakala dan agar masyarakat tetap mengenang dan menambah pengetahuan masyarakat akan kehidupan di masa purbakala.
Pada display ke-3 kami menemukan miniatur atau sketsa pada zaman purbakala, mulai dari kegiatan manusia hingga binatang.
 


Figure 8 Display 3
Selain itu kami juga ditontonkan video pembuatan manusia purba oleh ahli dari luar negeri, yang awalnya berbentuk patung hingga berbentuk mirip dengan manusia purba sungguhan. Dibawah layar TV terdapat papan yang dituliskan oleh Pak Ganjar Pranono.


 
Demikianlah Reportase kami dari Situs Museum Purbakala Sangiran. Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan serta ketertarikan anda pada dunia Purbakala. Anda dapat menjadikan Situs Museum Purbakala ini menjadi referensi bagi perjalanan anda selanjutnya. Keep fighting on the vacation!!!! J