Pagi itu tanggal 8 Juni 2014, tepatnya
pada pukul 10.00 WIB. Kami berangkat menuju Sangiran untuk melakukan Reportase
Feature untuk tugas mata kuliah Teknik Komunikasi. Perjalanan ini telah kami rencanakan
seminggu yang lalu. Kami berangkat menggunakan mobil Avanza yang kami sewa
sebagai alat transportasi dengan sopir kakak tingkat angkatan 2010.
Sesampainya kami disana, di pintu masuk kami
membeli tiket sebesar @Rp. 5000,- dan biaya parkir sebesar Rp. 5000,-. Setelah
itu kami langsung disambut dengan patung manusia purba yag berdiri besar di
bagian Timur halaman dan area parkir. Setelah mengisi buku tamu, kami berjalan
masuk dan mendapati Tebing tanah yang bertuliskan “Lahar
Gunung Lawu Purba”.

Figure 1 Lahar Gunung Lawu Purba Usia 1,8
Juta tahun
Kami sempat melakukan wawancara dengan
salah satu satpam yang menjaga di pintu masuk. Namanya pak Tekno. Beliau
menuturkan bahwa museum ini awal didirikan pada kurang lebih tahun 1974. Museum
telah memiliki perlebaran ±56 km² dan saat ini luasnya ±59,21 km². Dana
pembangunan renovasi museum saat ini berasal dari pemerintah, karena museum
Sangiran telah terdaftar sebagai museum bersejarah di dunia dengan nomer urut
pendaftaran ±500 di UNESCO. Pak tekno menuturkan karena banyak ditemukannya
fosil-fosil di daerah Sangiran, maka dipilihlah Sangiran menjadi tempat untuk
menempatkan serta merawat fosil-fosil tersebut.
Kemudian kami memasuki ruangan
Display 1, “Museum Sangiran ini terbagi menjadi 3 display ruangan yang
mempertunjukkan atau memperlihatkan keadaan jaman prasejarah”. Kata pak Tekno.
Figure 2 Penemuan terbaru 2014
Dapat dilihat pada ruangan display 1 disajikan
temuan fosil-fosil terbaru. Pada penemuan tebaru ditemukan fosil hewan gajah
yang berusia ± 200.000-700.000 tahun
yang lalu yang ditemukan sekitar bulan Januari- April 2014 di Daerah Sambung
Macan, Sragen, Jawa Tengah. Selain itu, juga terdapat miniatur manusia purba
dan juga fosil-fosil badak, dinosaurus, buaya dan bagian-bagian tubuh dari
gajah.
Menurut penuturan pak Tekno, saat ini arkeolog
masih melakukan pencarian dan penggalian terhadap fosil-fosil, dibantu dengan
masyarakat di sekitar dengan alasan mereka pemilik tanah yang di gali tersebut.
Selain itu pemerintah memang menginginkan adanya keterlibatan dari masyarakat
setempat agar nantinya dapat sama-sama untuk menjaga penemuan yang ditemukan
secara bersama.
Figure 2 Contoh Fosil dan Manusia Purba
Kemudian setelah memasuki ruang display
2, kami disajikan dengan gambaran-gambaran kepulauan Indonesia. Dari awal mula
terbentuknya alam semesta, yang dijuluki sebagai “The Ring of Fire”
Figure 4 The Ring of Fire
Kemudian di display ini juga menyajikan arkeolog
pertama yang meneliti keberadaan zaman purba yaitu pada zaman Belanda dan juga
menyajikan terbentuknya manusia sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh
Darwin.
Figure 5 Arkeolog
masa itu
Figure 6 Teori
Darwin
Figure 7 Cara Penemuan
Namun, yang menjadi pencetus pertama
kali pendirian Situs Museum Sangiran ini ialah Pak Toto Marsono yang merupakan
seorang arkeolog dari Indonesia. Alasan pembangunan museum ini, menurut
penuturan Pak Tekno, agar masyarakat tidak lupa dengan adanya zaman purbakala dan agar masyarakat
tetap mengenang dan menambah pengetahuan masyarakat akan kehidupan di masa purbakala.
Pada display ke-3 kami menemukan miniatur
atau sketsa pada zaman purbakala, mulai dari kegiatan
manusia hingga binatang.
Figure 8 Display 3
Selain itu kami juga ditontonkan video pembuatan manusia purba oleh ahli
dari luar negeri, yang awalnya berbentuk patung hingga berbentuk mirip dengan
manusia purba sungguhan. Dibawah layar TV terdapat papan yang dituliskan oleh
Pak Ganjar Pranono.
Demikianlah Reportase kami dari Situs
Museum Purbakala Sangiran. Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan serta
ketertarikan anda pada dunia Purbakala. Anda dapat menjadikan
Situs Museum Purbakala ini menjadi referensi bagi perjalanan anda selanjutnya. Keep fighting on the vacation!!!! J











