Senin, 09 Juni 2014

Pengalaman Kedua yang Seakan Pengalaman Pertama

HAHA. judulnya belibet banget yah :D

jadi gini, hari ini jadwal kuliah saya sedang tidak terlalu padat, dan akhirnya mencoba memberanikan diri untuk donor darah.
kegiatan donor darah ini diadakan oleh Psychopala fakultas Psikologi UMS. nah berhubung teman saya ada yang ingin mendonorkan darahnya, iseng-iseng saya pun mencoba untuk ikut donor darah.
sebenarnya ini bukan pertama kalinya saya donor darah, tapi donor darah yang pertama saya lakukan itu sekitar tahun 2013. jadi berasa ini adalah saat pertama donor darah saya!
duh awal nulis kertas hijau (kertas yang berisi identitas calon penyumbang darah) aja tangan udah jadi dingin semua. awalnya cuma di tensi aja *gak masalah sih, dokternya cakep, oi!*. terus abis itu geser dikit ke sebelahnya sama mbak dari PMI buat di cek kandungan darahnya. di tahap ini yang jadi penentuan nantinya bisa nggak darah kita buat di sumbangin. nah di tahap ini pula saya diketawain sama mbaknya karena pas di pegang sama si mbak, tangan saya dingin semua. duh malunya -,-
giliran antre menunggu *karena memang tempat tidur untuk donor darahnya cuma 2 biji* saya berpikir untuk kabur. saya pikir ini akan sakit sekali. waktu tadi tes darah aja, jari tangan saya di lubangin (?) itu aja kerasanya perih nggak ilang-ilang. apalagi di tusuk jarum besar buat mengalirkan darahnya nanti.
pikiran saya saat itu kacau. saya berusaha mengalihkan perhatian dengan cara bercanda pada teman saya yang saat itu lebih dulu diambil darahnya. tapi rupanya hal itu tidak membuat saya sedikit tenang.
saya pun mencoba berbicara dengan mbak-mbak di samping saya yang juga sedang menunggu giliran untuk diambil darahnya. mbaknya itu sebut saja mbak El. mbak El ini ternyata sudah memasuki semester 10. saya berbicara cukup banyak dengan mbak El, termasuk tentang kegiatan donor darah ini. mbak El mengaku dia cukup sering melakukan donor darah di fakultas Psikologi UMS. setiap Psychopala mengadakan acara ini, dia sering ikut untuk mendonorkan darahnya. duh, wajar rupanya mbak El jauh lebih tenang dari saya. dan begitu saya curhat *entah kenapa saya bisa langsung klop gitu sama mbak El, sampai saya tidak sadar sedang setengah curhat pada mbak El tentang ketakutan saya* mbak El bilang kalau bagian paling sakit dari donor darah yang selama ini pernah ia lakukan adalah pada saat pengambilan darah selesai dilakukan dan jarumnya dicabut dari lengan kita. duh, saat itu bener-bener pengen rasanya saya kabur dan melarikan diri.
tapi saya niatkan sekali lagi, siapa tau diluar sana ada yang membutuhkan sekantong darah yang kita sumbangkan :)
tiba pada saat giliran saya untuk diambil darahnya. jeng-jeng! saya yang saat itu tangannya masih dingin sambil memegangi kapas bekas pengambilan tes darah tadi, disuruh berbaring sama mbak perawat dari PMI. rasanya sedikit tenang karena tiba-tiba ada angin sejuk yang berhembus *halah*. sementara mbak PMI sibuk menyiapkan alat dan bahan (?), saya bertanya apakah nantinya sakit pada mbak PMI itu. dengan santainya mbak PMI menjawab "ya sakit jelaslah, tapi sedikit. soalnya kan di suntik, kalo nggak ngerasa sakit malah nggak wajar, dik". saya hanya dapat mencelos dalam hati. mbak PMI ini bisa nggak sih jawabnya yang lebih nenangin dikit :(
saat jarum mulai dimasukkan ke lengan kanan saya, saya menghadapkan wajah ke kiri. sungguh saya tidak ingin melihat jarum sebesar itu! jari tangan saya menggenggam erat kapas kecil yang tadi saya pakai untuk menghentikan darah saat tes darah. tapi setelah itu saya mulai memberanikan diri untuk melihat kondisi lengan kanan saya. saya banyak bertanya sama mbak PMI yang ternyata memang baik dan lugas ketika berbicara. sampai saya berani ber-selfie-ria memakai tangan kiri saya :D *entah apa hubungannya*

*ini foto selfie saya saat sedang donor darah*

setelah sekitar 30 menit tanpa terasa *karena terus bertanya pada mbak PMI dengan alibi untuk mengalihkan rasa sakit*, akhirnya donor darah ini berakhir juga. ternyata kalau nggak terlalu dirasakan, ketika jarum itu dilepaspun tidak terlalu terasa sakit, lho :)
setelah itu saya mencari kartu pink *kartu tanda aktivitas donor darah* yang entah hilang dimana. jadi deh saya bilang sama petugas PMI kalau kartu saya hilang. mereka baik sekali, saya akhirnya dibuatkan kartu yang baru. dan ternyata kartu ini menurut saya lebih bagus dari kartu yang pertama. duh senangnya :)
*ini adalah penampakan kartu saya saat ini*

setelah dapat snack dan kartu pink saya duduk bersama teman-teman. kata mbak PMI, lebih baik saya duduk bersandar dulu dan jangan langsung untuk jalan-jalan. jadi deh saya nurut dan mengobrol sebentar dengan teman-teman saya. beberapa menit kemudian saya melihat mbak El sedang berjalan. ketika saya ingin menyapa mbak El, tiba-tiba dia pingsan di dekat tempat donor darah. wah situasi jadi panik semua. tapi untungnya mbak dan mas dari PMI langsung sigap. mbak El di bopong untuk ditidurkan di kursi panjang dan diberi minyak kayu putih. selain itu kaki mbak El dinaikkan ke atas kardus agar tidak sejajar dengan kepala.
*ini adalah mbak El setelah siuman beberapa menit kemudian*

untungnya mbak El segera siuman. setelah ditanya mas PMI, ternyata mbak El saat setelah selesai donor memang langsung jalan-jalan dan tadi pagi belum sarapan.
sejenak dengan insiden ini saya takut donor darah. tapi kemudian saya berpikir ketika saya mengikuti saran dari mbak PMI, walaupun saran tersebut kelihatannya sepele, namun didalamnya ada kebaikan untuk diri kita dan orang lain di samping kita. 
cepat sembuh, mbak El :)
sebuah pelajaran berharga tidak hanya dapat kita dapatkan didalam kuliah, namun dapat diambil dari kehidupan sehari-hari di sekitas kita :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar